PLTS Rusak di Pulau Tunda, Pemprov Banten Pastikan PLN Bangun Baru Tahun 2027 dengan Daya 150 kWp

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Rabu, 13 Mei 2026 | 20:46:06 WIB
PLTS berkapasitas 150 kWp akan dibangun di Pulau Tunda pada tahun 2027 oleh PT PLN.

SERANG — Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baru di Pulau Tunda, Kabupaten Serang, akhirnya menemui titik terang. Pemerintah Provinsi Banten memastikan PT PLN akan membangun PLTS berkapasitas 150 kWp di pulau tersebut pada tahun 2027, menggantikan fasilitas serupa yang telah rusak dan membuat warga bertahun-tahun bergantung pada pasokan listrik tidak stabil.

Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten, Ari James Faraddy, mengatakan anggaran proyek ini sudah masuk dalam APBN Perubahan. Pihaknya menunggu pengesahan agar pembangunan bisa segera dieksekusi.

"Atas perjuangan kami semua, PLN akan masuk ke Pulau Tunda. Anggarannya masuk di APBN Perubahan ini. Mudah-mudahan APBN Perubahan ini bisa diketok dan nanti bisa dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang dikelola oleh PT PLN," ucap Ari James Faraddy, Rabu (13/5/2026).

Jangka Pendek: Pasokan Solar untuk PLTD

Sebelum PLTS baru beroperasi, pemerintah tidak tinggal diam. Untuk jangka pendek, Pemprov Banten bersama Pemkab Serang tengah mengurus izin pasokan solar dari BPH Migas.

"Nah, untuk jangka pendek ini, masyarakat Pulau Tunda membutuhkan solar. Nah, solar ini kita lagi berusaha mendapatkan izin dari BPH Migas," kata Ari James.

Solar tersebut akan digunakan untuk mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang selama ini menjadi satu-satunya andalan warga. Sayangnya, pasokan solar kerap tersendat sehingga listrik sering padam.

Warga Bertahun-tahun Bertahan dengan Listrik Tidak Stabil

Mamat (43), warga Pulau Tunda, mengungkapkan kondisi yang melelahkan. Listrik di pulau tersebut hanya menyala mulai pukul 18.00 WIB hingga 06.00 WIB dalam kondisi normal. Namun, belakangan jadwal itu sering berubah.

"Kadang baru jam 11 malam sudah mati. Pernah juga habis Magrib nyala sebentar, lalu mati lagi karena trouble," ujar Mamat, Sabtu (9/5/2026).

Ketidakstabilan ini berdampak langsung pada jaringan telekomunikasi. "Kalau listrik mati, tower juga ikut mati. Warga jadi susah sinyal dan internet," tambahnya.

Meski pelayanan tidak menentu, warga tetap membayar iuran harian. Besarannya bervariasi, mulai Rp 5.500 hingga Rp 15 ribu per malam, tergantung pemakaian alat elektronik.

PLTS Lama Rusak, Baterai dan Instalasi Jadi Biang Kerok

Menurut Mamat, sebenarnya panel surya di Pulau Tunda masih dalam kondisi baik. Masalah utama ada pada baterai dan instalasi yang sudah rusak.

"Tenaga suryanya sebenarnya masih bagus, cuma baterai dan instalasinya yang rusak. Kalau diperbaiki, listrik bisa nyala lagi," katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Serang, Najib Hamas, mengungkapkan pihaknya juga menjajaki kerja sama dengan PT Metta Energi Sejahtera. Pemkab Serang telah membuat nota kesepahaman (MoU) untuk pembangunan PLTS mandiri melalui skema CSR.

"Serang sedang menjajaki potensi CSR untuk pembangunan fasilitas PLTS di Pulau Tunda. Saat ini masih tahap penjajakan lokasi tersebut," ucap Najib Hamas.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: news.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top