TANGERANG SELATAN — Suara riang anak-anak bercampur dengan instruksi orang tua saat mereka bermain congklak dan meniup peluit bambu di area festival. Acara yang berlangsung di sebuah mal di kawasan Serpong ini sengaja digelar bertepatan dengan peringatan Hari Keluarga Sedunia yang jatuh setiap 15 Mei.
Pantauan di lokasi, sejumlah anak duduk berhadapan dengan orang tuanya di papan congklak. Tak jauh dari situ, seorang ayah dan putrinya asyik bercakap melalui telepon kaleng—permainan yang nyaris terlupakan di era gawai.
“Anak saya malah lebih antusias main telepon kaleng daripada lihat ponsel. Ini jadi momen langka,” ujar seorang ibu yang hadir bersama dua anaknya.
Hari Keluarga Sedunia ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesadaran terhadap berbagai isu yang berkaitan dengan keluarga. Tujuannya memperluas pemahaman soal proses sosial, ekonomi, dan kependudukan yang memengaruhi kehidupan rumah tangga.
Komunitas Kampung Dongeng memanfaatkan momen ini untuk mengajak keluarga kembali ke interaksi langsung. Selain sesi bercerita, panitia menyediakan permainan tradisional dan kegiatan interaktif lainnya yang bisa diikuti tanpa biaya.
Festival ini menjadi salah satu agenda tahunan komunitas yang berbasis di Tangerang Selatan. Mereka rutin menggelar acara serupa di ruang publik, sekolah, dan pusat perbelanjaan untuk menjangkau lebih banyak keluarga.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya akrab dengan layar, tapi juga dengan cerita dan sentuhan orang tua. Dongeng dan permainan tradisional jadi medianya,” kata perwakilan panitia di sela acara.
Para pengunjung tampak bergantian mencoba setiap stan permainan. Seorang ibu terlihat sabar mengajari putrinya meniup peluit bambu—alat musik sederhana yang jarang ditemui anak-anak sekarang.
Kegiatan berlangsung dari pagi hingga sore. Tak sedikit keluarga yang mengaku sengaja datang karena ingin mencari alternatif hiburan di akhir pekan yang melibatkan seluruh anggota keluarga, tanpa layar digital.