CILEGON — Kepala DLH Kota Cilegon, Sabri Mahyudin, mengungkapkan bahwa ledakan yang terjadi di PT Merak Chemical Indonesia (MCCI) baru-baru ini berada di titik yang identik dengan peristiwa tahun 2022. Kesamaan lokasi ini terdeteksi setelah pihaknya melakukan penelusuran lanjutan pasca-insiden.
“Setelah kami telusuri lebih lanjut, lokasi kejadian ini ternyata sama dengan titik kejadian yang pernah terjadi pada tahun 2022 yang lalu,” kata Sabri di kantornya, Selasa (26/5/2026).
Meski berlokasi sama, Sabri menjelaskan terdapat perbedaan karakteristik semburan uap antara kedua peristiwa. Pada insiden 2022, semburan mengarah ke area Pertamina. Sementara pada kejadian 2026, semburan justru mengarah ke bagian dalam pabrik.
“Jika melihat historisnya, pada kejadian tahun 2022 lalu, semburan uap mengarah ke area Pertamina. Sedangkan pada kejadian tahun 2026 ini, semburannya justru mengarah ke bagian dalam pabrik,” ujar Sabri.
Perbedaan ini menjadi salah satu poin krusial yang akan didalami DLH, terutama untuk mengevaluasi tindak lanjut dari insiden sebelumnya.
Sabri meluruskan bahwa rekomendasi pasca-ledakan tahun 2022 bukan berasal dari Dinas Lingkungan Hidup. Perusahaan saat itu hanya melakukan audit mandiri terhadap kecelakaan yang terjadi.
“Perlu diluruskan bahwa yang ada sebelumnya bukanlah rekomendasi dari LH, melainkan audit internal dari pihak mereka sendiri. Mereka melakukan audit mandiri terhadap kecelakaan yang terjadi pada tahun 2022,” kata dia.
Karena insiden serupa kembali terjadi di titik yang sama, DLH menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur pabrik kimia tersebut, termasuk material pipa dan sistem tekanan.
Menanggapi temuan ini, pihak perusahaan mengklaim sistem pengelolaan tekanan pada pipa telah diawasi secara otomatis. Mereka menyebut mekanismenya mirip dengan prinsip kerja panci presto yang akan mengeluarkan bunyi dan uap jika tekanan mencapai ambang batas.
Saat ini, DLH menyerahkan proses pengusutan aspek hukum dan teknis kepada pihak berwajib. Sabri mengatakan, insiden kedua ini tengah diselidiki secara mendalam oleh Polda Banten.
“Saat ini, teman-teman dari Polda masih terus melakukan tahap penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan apakah terdapat kelalaian SOP atau faktor lainnya,” kata Sabri.