LEBAK — Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Lebak memastikan 51 dapur SPPG di wilayah 3T telah rampung dibangun dan siap mendistribusikan makanan bergizi. Ketua Koordinator BGN Kabupaten Lebak Asep Royani mengatakan, dari total tersebut, baru lima unit yang lolos verifikasi kelayakan dan dipastikan beroperasi pada pekan depan.
"Kami berharap SPPG khusus 3T bisa secepatnya beroperasi guna mempersiapkan generasi Emas 2045," kata Asep di Lebak, Jumat.
Sisanya, sebanyak 46 SPPG masih dalam proses pembangunan di kawasan 3T. Setiap SPPG ditargetkan melayani maksimal 1.000 penerima manfaat, mulai dari anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita.
Lokasi dapur gizi ini tersebar di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), meliputi Kecamatan Cipanas, Lebak Gedong, Sobang, Cibeber, Panggarangan, Bojongmanik, Cirinten, Cigemblong, dan Leuwidamar. Bahkan, beberapa SPPG didirikan di lokasi bencana alam tahun 2020, tempat warga masih tinggal di hunian sementara (huntara).
Kondisi geografis yang sulit menjadi tantangan utama pendistribusian MBG. Berbeda dengan SPPG reguler, dapur di daerah 3T membutuhkan kendaraan kabin ganda seperti Toyota Hilux untuk menjangkau permukiman warga yang berada di perbukitan dan pegunungan.
"Kami komitmen untuk melayani Program MBG agar anak-anak di daerah 3T tidak stunting maupun kekurangan gizi," ujar Asep.
BGN juga tengah mengkaji kemungkinan menjangkau masyarakat Suku Badui. Sebab, anak-anak dari komunitas adat tersebut tidak bersekolah, sehingga pola distribusi MBG harus disesuaikan.
Kondisi topografi permukiman Badui di tanah hak ulayat adat yang berbukit dan bergunung menjadi kendala. Selain itu, pada siang hari mayoritas warga Badui berada di kebun dan ladang untuk bercocok tanam padi huma, palawija, dan sayuran.
"Itu harus dipelajari supaya pendistribusian MBG benar-benar tidak menemukan kendala agar penerima manfaat dengan lancar dan aman," kata Asep.
Kajian ini mencakup petunjuk teknis (juknis) distribusi agar MBG tetap bisa diterima oleh anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di komunitas adat tersebut.