BANTEN — Pelemahan ini terjadi meskipun data internal Bank Indonesia (BI) menunjukkan optimisme konsumen justru menguat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 tercatat di level 123, naik tipis dari 122,9 pada Maret. Angka di atas 100 menandakan masyarakat masih optimistis terhadap ekonomi nasional.
Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah hari ini diprediksi fluktuatif dengan kecenderungan melemah. "Mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.410—Rp17.460," ujarnya.
Sentimen Eksternal Lebih Dominan dari Data Domestik
Kenaikan IKK nyaris tidak berdampak pada laju rupiah. Pelaku pasar masih fokus pada meningkatnya tensi geopolitik global. Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS "sama sekali tidak dapat diterima", memicu kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.
Kondisi ini mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Akibatnya, hampir seluruh mata uang Asia tertekan, termasuk rupiah. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada Senin (11/5) mencatat kurs rupiah di Rp17.415, sudah melemah 40 poin dari posisi akhir pekan lalu.
Optimisme Konsumen Tak Selaras dengan Daya Beli
BI mencatat komponen Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) naik ke 116,5 dari 115,4. Artinya, persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan daya beli dinilai membaik. Namun, perbaikan ini masih bersifat persepsi, belum tercermin sepenuhnya di pasar valas.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sedikit turun ke 129,6 dari 130,4. Penurunan tipis ini mengindikasikan optimisme terhadap prospek ekonomi ke depan mulai moderat. Kombinasi data ini menunjukkan konsumen optimistis dalam jangka pendek, tapi mulai berhati-hati melihat kondisi ke depan.
Kapan Rupiah Bisa Berbalik Menguat?
Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah masih sangat tergantung pada perkembangan geopolitik global. Selama ketegangan AS-Iran belum mereda, tekanan terhadap rupiah akan terus berlanjut. Pelaku pasar disarankan mencermati data inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini sebagai katalis potensial.
Dari sisi domestik, BI diperkirakan akan terus melakukan intervensi ganda di pasar spot dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga stabilitas. Namun, efektivitas intervensi akan terbatas jika sentimen eksternal masih dominan. Investasi mengandung risiko.