Lewat dari Stasiun Rangkasbitung menuju arah Pandeglang, saya masih ingat betul aroma laut bercampur dupa dari perahu-perahu nelayan yang dihias warna-warni. Itu adalah momen sebelum Festival Pesisir dimulai, sebuah tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun di Banten. Bagi perantau seperti saya, festival-festival ini bukan sekadar tontonan, melainkan jendela untuk memahami denyut nadi masyarakat Banten yang jarang tersentuh sorotan media nasional.
Dari pengalaman mengikuti beberapa perayaan langsung, saya mencatat tujuh festival yang konsisten digelar tahunan. Masing-masing punya daya tarik unik yang sulit ditemukan di daerah lain. Bukan cuma seremonial, tapi perayaan ini adalah napas hidup komunitas.
1. Festival Pesisir Anyer-Carita
Setiap tahun, menjelang musim barat, masyarakat pesisir Anyer dan Carita menggelar ritual larung sesaji ke tengah Selat Sunda. Perahu-perahu nelayan dihias janur dan kain merah, membawa hasil bumi yang kemudian dihanyutkan. Saya sempat ikut naik perahu salah satu nelayan dari Kampung Cikoneng — suasananya riuh rendah, bukan sedih.
Ritual ini bukan sekadar tolak bala. Warga setempat meyakininya sebagai wujud syukur atas hasil laut yang melimpah. Waktu terbaik datang adalah pagi hari, saat prosesi baru dimulai. Jangan lupa bawa alas duduk karena Anda akan duduk di pasir cukup lama.
2. Debus Banten di Alun-Alun Serang
Debus bukan atraksi biasa. Di alun-alun Kota Serang, saya melihat langsung pria paruh baya menusuk lengannya dengan besi runcing tanpa luka. Ini adalah seni bela diri warisan Kesultanan Banten yang memadukan kekuatan fisik dengan kekuatan spiritual. Penampil biasanya memulai dengan pembacaan doa-doa berbahasa Arab.
Pertunjukan ini rutin digelar saat hari besar keagamaan atau acara resmi pemerintah kota. Jangan coba-coba meniru gerakan mereka di rumah. Yang menarik, para pemain debus umumnya adalah anggota perguruan silat lokal yang sudah berlatih bertahun-tahun.
3. Tradisi Ngarak Pengantin di Kampung Kramatwatu
Di Kampung Kramatwatu, Kabupaten Serang, prosesi pernikahan adat Banten masih dipertahankan dengan iringan pencak silat dan rebana. Saya pernah diundang warga setempat menyaksikan pengantin diarak keliling kampung sambil diiringi tabuhan. Busana pengantin didominasi warna merah dan emas, dengan mahkota khas Kesultanan.
Acara ini biasanya berlangsung dari sore hingga malam. Jika Anda kebetulan lewat daerah itu dan melihat tenda besar di pinggir jalan, jangan sungkan mampir — warga Banten terkenal ramah pada tamu yang datang dengan niat baik.
4. Ruwatan Bumi di Desa Cikolelet
Desa Cikolelet, Kecamatan Cikeusal, menggelar Ruwatan Bumi setiap bulan Muharram. Petani membawa hasil panen terbaik mereka ke lapangan desa, lalu didoakan bersama oleh sesepuh adat. Saya sempat berbincang dengan Pak Ujang, salah satu tetua di sana. Katanya, tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman kolonial.
Setelah doa, hasil bumi dibagikan ke seluruh warga. Tidak ada panggung hiburan atau tenda penjual — suasananya benar-benar seperti kumpul keluarga besar. Cocok untuk Anda yang ingin merasakan kehidupan desa Banten yang otentik.
5. Maulid Nabi di Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten di kawasan Kasemen setiap tahun menggelar perayaan Maulid Nabi yang berbeda dari daerah lain. Di sini, tradisi nganggung (makan bersama) dilakukan di pelataran masjid dengan nasi bogana khas Banten. Saya ikut duduk lesehan bersama puluhan orang asing dan lokal — semua makan dari satu wadah.
Suasananya sangat cair. Tidak ada pembatas antara pejabat dan rakyat. Masjid ini sendiri adalah peninggalan Kesultanan Banten abad ke-16, jadi arsitekturnya sudah layak dinikmati meski Anda tidak ikut perayaan.
6. Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Tanjung Lesung
Pantai Tanjung Lesung di Pandeglang menjadi arena festival layang-layang raksasa setiap musim kemarau. Layang-layang berbentuk naga dan burung dengan lebar hingga 5 meter diterbangkan oleh komunitas dari berbagai kota. Saya pernah melihat layang-layang putus dan terbang ke arah Gunung Pulosari — dikejar anak-anak kampung dengan sepeda motor.
Festival ini biasanya berlangsung akhir pekan. Angin dari Selat Sunda cukup kencang, jadi bawalah topi atau kacamata hitam. Jika Anda tertarik menerbangkan layang-layang sendiri, bawa dari rumah karena harga di lokasi bisa bervariasi.
7. Hajat Laut di Pulau Panjang
Pulau Panjang, yang terletak di Teluk Banten, menggelar Hajat Laut setiap bulan Safar. Warga pulau yang mayoritas nelayan membuat perahu mini dari kayu, diisi sesajen, lalu dihanyutkan ke tengah laut. Saya ikut prosesi ini pada 2023 lalu — perahunya kecil, hanya sebesar lengan orang dewasa, tapi dihias sangat rapi.
Acara ini diiringi musik rebana dan tarian tradisional. Karena aksesnya hanya lewat kapal dari Dermaga Karangantu, pastikan Anda datang pagi-pagi. Tiket kapal umum tersedia dengan harga terjangkau.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kapan waktu terbaik menonton Debus Banten?
Biasanya saat peringatan Hari Jadi Banten (4 Oktober) atau acara keagamaan di Masjid Agung Banten. Jadwal pasti bisa ditanyakan ke Dinas Pariwisata setempat.
Apakah festival ini gratis?
Sebagian besar gratis untuk ditonton, kecuali jika ada stan pameran atau konser musik yang memungut tiket masuk. Cek informasi resmi sebelum berangkat.
Bagaimana cara ke Kampung Kramatwatu?
Dari Serang, naik angkutan kota jurusan Kramatwatu turun di pasar. Dari sana, jalan kaki atau naik ojek ke lokasi acara.
Apakah anak-anak boleh ikut nonton Debus?
Boleh, tapi awasi dari jarak aman. Adegan menusuk badan bisa membuat anak kecil takut.
Kapan Festival Layang-Layang di Tanjung Lesung biasanya digelar?
Biasanya Juni hingga Agustus, tergantung kondisi angin. Informasi akurat bisa didapat dari akun media sosial resmi pengelola Tanjung Lesung.
Festival-festival ini bukan sekadar hiburan musiman. Mereka adalah dokumen hidup tentang bagaimana masyarakat Banten menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi. Jika Anda berkesempatan, pilih satu festival, datang lebih awal, dan ajak bicara warga setempat. Dari situlah Anda akan pulang membawa cerita, bukan cuma foto.