LEBAK — Rumah Cacang Hidayat di Kampung Sanding, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, tak lagi berdinding bilik. Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemerintah Kabupaten Lebak mengubah kondisi tempat tinggalnya yang dulu berukuran 6 x 6 meter itu.
“Alhamdulillah rumah sudah jauh lebih baik. Keramik dan hebel juga sudah ada bantuan, tinggal menunggu biaya untuk memasangnya,” kata Cacang kepada Faktabanten.co.id, dikutip baru-baru ini.
Bantuan dari PGRI dan LSM
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Lebak turut memberikan bantuan berupa keramik lantai dan bata hebel. Namun, Cacang belum bisa memasang seluruh material tersebut karena masih harus mengumpulkan biaya pembangunan.
Selain perbaikan rumah, seorang guru yang juga merangkap sebagai tenaga tata usaha di perpustakaan sekolah itu kini memiliki sepeda motor. Kendaraan itu merupakan bantuan dari sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mempermudah mobilitasnya menuju sekolah.
“Kalau berangkat biasanya diantar anak menggunakan motor. Untuk pulang, saya masih sering berjalan kaki,” ujarnya sambil tersenyum.
Gaji Rp 1,2 Juta untuk Enam Anak
Sebelum viral, Cacang hanya menerima honor sekitar Rp850 ribu per bulan sebagai guru honorer. Ditambah insentif piket, total penghasilannya berkisar Rp1,2 juta setiap bulan. Dengan pendapatan tersebut, ia harus menghidupi enam orang anak.
Kini, setelah diangkat menjadi PPPK Paruh Waktu, penghasilannya mulai membaik. Namun, Cacang masih memiliki harapan besar untuk menyelesaikan bagian dapur rumahnya yang belum tersentuh renovasi.
“Saya setiap hari berangkat dan pulang kerja berjalan kaki. Perjalanan sekitar dua jam, tetapi karena itu sudah menjadi tanggung jawab, saya jalani dengan ikhlas,” katanya mengenang masa-masa sulit.
Dapur dan Air Bersih Jadi Prioritas Berikutnya
Meskipun kondisi rumah utama telah diperbaiki, Cacang mengaku masih membutuhkan bantuan untuk menyempurnakan fasilitas dapur, lantai keramik, dan air bersih. Ia berharap suatu saat memiliki rezeki agar seluruh bagian rumahnya layak huni.
Kisah perjuangan Cacang menjadi bukti bahwa dedikasi seorang pendidik di pelosok daerah mampu menginspirasi banyak pihak. Kepedulian dari pemerintah, PGRI, dan LSM menunjukkan semangat gotong royong masih tumbuh untuk mendukung mereka yang mengabdikan diri bagi dunia pendidikan.