BANTEN — Keputusan Danantara Investment Management (DIM) mengambil 25% saham pada perusahaan patungan baru dengan JBS Group—entitas yang mengelola bisnis daging di Australia dan Selandia Baru—memicu diskusi mengenai arah investasi strategis pemerintah. Sekretaris Jenderal DPP PPSKI Robi Agustiar menyambut langkah ini sebagai sinyal positif bahwa industri protein hewani masih dipandang prospektif.
"Artinya industri sapi potong atau industri protein ini masih positif dan menarik di mata pemerintah. Buktinya pemerintah menanamkan dananya yang cukup besar sebagai investasi di bidang ini," ujar Robi kepada Katadata.co.id, Rabu (12/8).
Investasi di Luar Negeri vs Kebutuhan Pasar Domestik
Di balik sambutan tersebut, PPSKI menggarisbawahi satu pertanyaan mendasar: mengapa investasi besar ini ditempatkan di luar negeri, sementara produksi sapi lokal baru memenuhi sekitar 40%-43% kebutuhan nasional. Sisanya, lebih dari separuh permintaan, masih bergantung pada impor.
"Yang kami pertanyakan adalah kenapa investasinya di luar. Kenapa tidak melakukan investasinya di dalam negeri?" kata Robi.
Kemitraan strategis ini memang dirancang untuk mengembangkan ekosistem protein Indonesia dan memperkuat rantai pasok di Asia Tenggara. Selain investasi awal US$2,5 miliar, perusahaan patungan tersebut berpotensi menerima tambahan pembiayaan hingga US$2,5 miliar untuk akuisisi dan investasi baru di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.
Peternak Tunggu Kejelasan Arah Bisnis: Dukung Produksi Lokal atau Impor?
Robi menegaskan dampak investasi ini terhadap industri dalam negeri belum bisa diprediksi. Kejelasan baru bisa diperoleh setelah Danantara mengumumkan langkah bisnis selanjutnya, terutama mengenai arah dukungan investasi tersebut.
"Danantara ini akan mendukung mana? Apakah mendukung produksi lokal atau menguasai importasi ini?" ujarnya.
Harapan yang disuarakan PPSKI adalah agar sebagian dana investasi tersebut pada akhirnya mengalir kembali ke Indonesia. Bentuknya bisa berupa akuisisi perusahaan lokal, transfer teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, atau pengembangan usaha peternakan rakyat.
"Kami berharap JBS itu adalah perusahaan protein terbesar di dunia yang berkantor pusat di Brasil. Kalau boleh, sebagian dananya diinvestasikan balik ke Indonesia," tutur Robi.
Akses Investasi bagi Pelaku Usaha Lokal
PPSKI juga mendorong pemerintah membuka informasi mengenai syarat bagi perusahaan lokal yang ingin mendapatkan pendanaan dari Danantara. Transparansi ini dinilai penting agar pelaku usaha di dalam negeri memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam rantai pasok protein nasional.
Indonesia tercatat sebagai salah satu pasar daging sapi terbesar di Asia Tenggara, dengan konsumsi yang terus tumbuh seiring pertumbuhan kelas menengah. Ketergantungan pada impor daging sapi—baik dari Australia, Selandia Baru, maupun negara lain—menjadi celah struktural yang selama ini belum mampu ditutup oleh produksi dalam negeri.
Kemitraan Danantara-JBS berpotensi mengubah peta persaingan industri daging di kawasan, mengingat skala JBS sebagai salah satu pengolah protein terbesar dunia. Namun tanpa kepastian alokasi investasi ke dalam negeri, manfaatnya bagi peternak lokal masih menjadi tanda tanya besar.