BANTEN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,64% ke level 5.142 pada penutupan Sesi I, Kamis (29/10/2026), setelah investor asing terus melepas saham Indonesia di tengah ancaman MSCI menurunkan status pasar saham domestik menjadi Standalone Market. Posisi itu dua tingkat lebih rendah dari status Emerging Market yang saat ini disandang. Tekanan jual membuat indeks bergerak dalam rentang 5.135 hingga 5.320 sepanjang pagi hingga siang.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi saham pada Sesi I mencapai Rp5,85 triliun dari 14,35 miliar saham yang diperdagangkan, dengan frekuensi 803 ribu kali. Dari seluruh saham yang aktif, 593 saham melemah dan hanya 92 saham menguat, sementara 100 saham stagnan.
Ancaman MSCI menjadi pemicu utama tekanan. Rencana penurunan status pasar saham Indonesia ke Standalone Market membuat investor asing mempercepat pelepasan portofolio, sehingga aliran dana keluar (outflow) masih deras hingga pertengahan perdagangan.
Sektor Infrastruktur dan Barang Baku Paling Tertekan
Saham-saham infrastruktur memimpin pelemahan dengan koreksi 3,78%, disusul saham barang baku yang turun 3,56% dan saham perindustrian melemah 2,98%. Sektor konsumen non primer ikut tertekan 2,75%, sedangkan saham energi turun 2,72%.
- Infrastruktur: -3,78%
- Barang baku: -3,56%
- Perindustrian: -2,98%
- Konsumen non primer: -2,75%
- Energi: -2,72%
Rentang Pergerakan Sempat Sentuh Level Terlemah 5.135
Sepanjang Sesi I, IHSG bergerak dari level tertinggi 5.320 hingga terlemah di 5.135. Posisi penutupan 5.142 berada dekat titik terendah harian, menandakan tekanan jual belum mereda menjelang sesi kedua.
Rasio saham melemah terhadap yang menguat mencapai lebih dari enam banding satu, mencerminkan pelemahan yang merata di hampir seluruh sektor. Nilai transaksi Rp5,85 triliun tergolong moderat, menandakan pasar menahan diri di tengah ketidakpastian status indeks.
Apa Artinya bagi Investor di Sesi II
Bagi pemegang saham, ancaman Standalone Market berimplikasi pada potensi penurunan bobot alokasi dana asing di pasar Indonesia. Status itu membuat saham domestik keluar dari indeks acuan global, yang biasanya berdampak pada likuiditas dan valuasi jangka menengah.
Investor perlu mencermati apakah outflow asing berlanjut di Sesi II dan bagaimana respons otoritas pasar terhadap sinyal MSCI. Sektor infrastruktur dan barang baku yang paling dalam koreksinya menjadi area yang layak dipantau untuk melihat apakah tekanan bersifat sementara atau struktural.