Pencarian

7 Objek Wisata Sejarah di Banten yang Penuh Cerita dan Wajib Dikunjungi

Jumat, 10 Juli 2026 • 22:48:32 WIB
7 Objek Wisata Sejarah di Banten yang Penuh Cerita dan Wajib Dikunjungi
Masjid Agung Banten menampilkan perpaduan arsitektur Jawa, Hindu, dan Tiongkok sejak abad ke-16.

Kota-kota di pesisir utara Banten, seperti Banten Lama dan Anyer, bukan sekadar titik di peta. Di sinilah denyut nusantara pernah berdetak kencang—sebagai pusat perdagangan lada dunia dan basis penyebaran Islam di Jawa Barat. Jalan-jalan beraspal yang Anda lewati hari ini dulunya adalah jalur pelabuhan yang disinggahi kapal-kapal Portugis, Inggris, dan Belanda.

Bagi perantau yang baru pindah ke Tangerang atau Serang, serta wisatawan yang ingin napak tilas, berikut tujuh destinasi yang menyimpan cerita langsung dari masa lalu. Bukan sekadar foto di depan bangunan tua, tapi pengalaman merasakan atmosfer sejarah yang autentik.

1. Masjid Agung Banten

Masjid ini berdiri sejak abad ke-16 di pusat Banten Lama, sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Serang. Arsitekturnya memadukan gaya Jawa, Hindu, dan Tiongkok—menara setinggi 24 meter itu dirancang oleh arsitek China bernama Cek Ban Cut.

Tidak ada biaya masuk. Pengunjung hanya perlu mengenakan pakaian sopan. Waktu terbaik datang adalah pagi hari antara pukul 08.00-10.00 WIB, sebelum suara bising kendaraan mulai ramai. Anda bisa duduk di serambi masjid dan membayangkan bagaimana para sultan dulu bermusyawarah di tempat yang sama.

2. Keraton Surosowan

Bekas istana Kesultanan Banten ini hancur akibat serangan Belanda pada 1808. Kini yang tersisa hanya tembok tebal setinggi 3 meter dan kolam pemandian yang disebut Kolam Segara Wana. Lokasinya persis di belakang Masjid Agung Banten, bisa ditempuh dengan jalan kaki 5 menit.

Tiket masuk Rp5.000 per orang. Area ini terbuka setiap hari dari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Hati-hati saat berjalan—beberapa bagian lantai tidak rata dan tertutup lumut, apalagi setelah hujan.

3. Benteng Speelwijk

Benteng peninggalan VOC ini dibangun tahun 1682 di tepi Sungai Ciujung. Namanya diambil dari Gubernur Jenderal Cornelis Speelman. Yang menarik, meriam-meriam di sini masih asli dan menghadap langsung ke arah Selat Sunda.

Lokasinya di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, sekitar 15 menit naik motor dari Stasiun Serang. Tiket masuk Rp10.000 per orang. Jangan lupa bawa air minum sendiri—di sekitar benteng jarang ada warung. Sore hari menjadi waktu favorit karena cahaya matahari jatuh indah di dinding bata merah.

4. Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Museum ini menyimpan koleksi keramik asing, mata uang kuno, dan replika perahu dagang yang ditemukan di perairan Banten. Total ada lebih dari 2.000 artefak yang dipajang. Bangunannya sendiri adalah bekas rumah residen Belanda yang dibangun tahun 1916.

Buka Selasa hingga Minggu, pukul 08.00-16.00 WIB. Tiket masuk Rp5.000 untuk dewasa. Panduan museum biasanya bersedia bercerita panjang lebar kalau Anda bertanya—manfaatkan kesempatan itu untuk mendapat cerita lisan yang tidak tertulis di brosur.

5. Vihara Avalokitesvara

Terletak di kawasan Pasar Lama Tangerang, vihara ini adalah salah satu yang tertua di Banten, berdiri sejak 1650. Arsitekturnya perpaduan Tionghoa dan Betawi yang kental. Di dalamnya terdapat patung Dewi Kwan Im setinggi 3 meter yang diselimuti ukiran kayu jati.

Tidak ada tiket masuk. Vihara buka setiap hari dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Kalau datang saat Imlek atau Cap Go Meh, Anda akan melihat lampion dan dupa yang memenuhi seluruh ruangan. Parkir motor di pinggir jalan utama, agak sempit saat akhir pekan.

6. Mercusuar Anyer (Sunda Kelapa)

Mercusuar setinggi 62 meter ini dibangun Belanda tahun 1885 di tepi Pantai Anyer. Fungsinya dulu sebagai penanda jalur pelayaran Selat Sunda. Kini, mercusuar ini menjadi spot favorit untuk melihat matahari tenggelam.

Lokasi di Jalan Raya Anyer, KM 140. Tiket masuk Rp10.000 per orang. Anda bisa naik ke puncak mercusuar melalui tangga spiral—pastikan kondisi fisik prima karena ada 200 anak tangga. Angin di atas sangat kencang, ikat rambut kalau panjang.

7. Makam Keramat Panjang

Kompleks pemakaman ini berada di Desa Keramat, Kecamatan Cilegon, sekitar 30 menit dari pusat kota. Di sini dimakamkan para penyebar Islam dari abad ke-16, termasuk Syekh Abdul Qadir al-Jailani versi lokal. Bangunan makam beratap tumpang tiga khas arsitektur Jawa kuno.

Tidak ada biaya masuk, tapi pengunjung biasanya membawa kembang atau beras kuning untuk seserahan. Tempat ini ramai setiap malam Jumat Kliwon. Jaga sopan santun dan jangan memotret area makam tanpa izin juru kunci.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah semua tempat ini bisa dikunjungi dalam satu hari?
Bisa, asalkan Anda mulai dari Banten Lama pukul 07.00 pagi. Masjid Agung, Keraton Surosowan, Benteng Speelwijk, dan museum berada dalam satu kawasan. Vihara dan makam bisa dijadwalkan setelahnya. Mercusuar Anyer sebaiknya sore hari.

Berapa total biaya tiket masuk ke semua destinasi?
Kisaran Rp30.000 hingga Rp40.000 per orang, tergantung ada tidaknya biaya parkir. Sebagian besar tempat tidak memungut biaya atau hanya Rp5.000-Rp10.000.

Transportasi apa yang paling mudah untuk keliling Banten Lama?
Sewa motor harian Rp70.000-Rp100.000 di sekitar Stasiun Serang. Ojek online tersedia, tapi sinyal kadang lemah di area situs sejarah. Mobil pribadi juga bisa, tapi jalan di sekitar keraton cukup sempit untuk dua mobil berpapasan.

Kapan waktu terbaik berkunjung ke Banten Lama?
Hindari musim hujan Desember-Februari karena banyak area terbuka yang becek. Bulan Mei hingga September cuacanya cerah dan tidak terlalu panas di pagi hari.

Apakah ada pemandu wisata resmi di situs sejarah Banten?
Ada di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, biasanya petugas jaga yang merangkap pemandu. Tidak dipungut biaya tambahan, cukup tiket masuk. Untuk makam dan vihara, juru kunci setempat bisa dimintai penjelasan.

Banten bukan sekadar tempat singgah di pinggir Tol Jakarta-Merak. Di setiap sudut situs sejarahnya, ada lapisan cerita yang menunggu untuk digali—dari gemericik air kolam keraton hingga desau angin di puncak mercusuar. Datanglah dengan waktu yang cukup, karena sejarah tidak bisa diburu-buru.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks