BANTEN — Kinerja industri perbankan nasional hingga Juni 2026 menunjukkan fundamental yang solid. Kredit perbankan tumbuh 12,7 persen secara tahunan, sementara dana pihak ketiga (DPK) naik 10,2 persen dan dana murah (CASA) tumbuh 11 persen. BRI ikut menikmati momentum ini—bahkan mencatat pertumbuhan di atas rata-rata industri.
Aset konsolidasi BRI mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7 persen. Kredit dan pembiayaan meningkat lebih agresif, yakni 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun. Portofolio kredit UMKM masih mendominasi dengan nominal Rp1.235,4 triliun.
Dana Murah dan Efisiensi Jadi Kunci
Pertumbuhan laba BRI tidak lepas dari perbaikan struktur pendanaan. Rasio biaya dana (cost of fund) turun dari 3,0 persen menjadi 2,4 persen—penurunan 60 basis poin dalam setahun. Ini buah dari strategi memperbesar basis CASA lewat pendekatan ekosistem dan kanal digital seperti BRImo, QRIS, serta jaringan BRILink Agen.
Efisiensi operasional juga membaik. Rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) turun dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen. Alhasil, pendapatan bunga bersih (NII) naik 9,9 persen menjadi Rp80,5 triliun, dan laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) tumbuh 12,8 persen ke level Rp65,7 triliun.
Kualitas Aset Terjaga di Tengah Ekspansi
Ekspansi kredit yang agresif tidak membuat BRI lalai menjaga kesehatan portofolio. Rasio kredit bermasalah (NPL) turun dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen. Biaya pencadangan (cost of credit) juga membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa pertumbuhan yang dikejar harus berkualitas. "Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan," ujarnya dalam paparan kinerja di Jakarta, Senin (31/8).
UMKM Tetap Jadi Penopang Utama
Di tengah upaya diversifikasi, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah tetap menjadi tulang punggung bisnis BRI. Perseroan menyempurnakan proses bisnis, memperkuat peran mantri, dan menerapkan manajemen risiko yang lebih ketat agar ekspansi kredit ke sektor ini berjalan sehat.
Sumber pertumbuhan baru juga sedang dibangun. BRI mengakuisisi value chain dan ekosistem, menyempurnakan proposisi nilai produk, serta memperluas layanan bullion bank—layanan emas yang menjadi atraktor nasabah baru.
"Di tengah transformasi yang terus kami jalankan, satu hal yang tidak berubah adalah komitmen BRI untuk terus tumbuh bersama UMKM dan ekonomi kerakyatan Indonesia," kata Hery.
ROE Melonjak ke 18,8 Persen
Perbaikan fundamental tercermin dari rasio profitabilitas. Return on equity (ROE) BRI meningkat dari 16,6 persen menjadi 18,8 persen dalam setahun. Return on asset (ROA) terjaga di level 2,7 persen—di atas rata-rata industri yang berada di kisaran 2,5 persen.
Dengan DPK mencapai Rp1.581 triliun, likuiditas BRI tetap longgar. Rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) industri memang berada di 88,3 persen, tetapi BRI masih punya ruang untuk ekspansi lebih lanjut.
Capaian semester pertama ini menegaskan posisi BRI sebagai bank dengan portofolio UMKM terbesar di Indonesia. Pertumbuhan laba 17,5 persen yang ditopang efisiensi biaya dana dan ekspansi kredit menunjukkan transformasi BRIVolution Reignite mulai membuahkan hasil nyata—bukan sekadar wacana korporasi.