LEBAK — Angka tersebut disampaikan Sekretaris Disnaker Lebak, Rully Chaeruliyanto, pada Senin (22/6). Para PMI tersebar di 13 negara, dengan kawasan Timur Tengah mendominasi. Selain Arab Saudi, Malaysia menjadi tujuan kedua dengan sembilan orang.
Rully merinci, para pekerja migran asal Lebak tidak hanya bergerak di sektor informal. Mereka bekerja sebagai perawat lansia, tenaga kesehatan, pengemudi, pekerja salon, hingga pekerja pabrik dan perbengkelan. Beberapa di antaranya bahkan tercatat bekerja di negara-negara Eropa seperti Turki, Slovakia, dan Jerman.
Edukasi Sejak Sebelum Berangkat Jadi Kunci
Disnaker Lebak menggencarkan sosialisasi agar masyarakat hanya berangkat melalui jalur prosedural. Langkah ini untuk meminimalkan risiko Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), kekerasan, dan eksploitasi yang kerap membayangi pekerja migran non-prosedural.
“Sebelum keberangkatan, calon pekerja migran juga diberikan edukasi mengenai hak dan kewajiban mereka sebagai PMI,” kata Rully.
Komitmen Lindungi PMI Jika Ada Masalah di Luar Negeri
Pemerintah daerah berjanji tidak lepas tangan jika para pekerja migran menghadapi persoalan selama di luar negeri. Rully menegaskan, perlindungan mencakup kasus keterlambatan gaji hingga tindakan kekerasan.
“Pemerintah daerah akan memperjuangkan dan melindungi hak mereka jika ada permasalahan selama bekerja,” ujarnya.
Data ini menjadi potret tren migrasi tenaga kerja asal Lebak yang masih mengandalkan Timur Tengah sebagai ladang penghidupan, meski peluang di Eropa mulai terbuka.