Pencarian

Baterai Sodium-ion China Hina Disebut Setara Tesla dalam Kualitas Produksi, Ini Hasil Pembongkaran

Selasa, 23 Juni 2026 • 12:50:31 WIB
Baterai Sodium-ion China Hina Disebut Setara Tesla dalam Kualitas Produksi, Ini Hasil Pembongkaran
Peneliti Jerman membandingkan kualitas produksi baterai sodium-ion Hina dengan sel lithium-ion Tesla.

BANTEN — Peneliti Jerman membongkar sel baterai sodium-ion komersial Hina dan membandingkannya dengan teknologi lithium-ion canggih milik Tesla. Hasilnya mengejutkan: variasi resistansi antar sel hanya 5,3 persen dari 120 sampel yang diuji. Angka ini merupakan indikator kontrol kualitas produksi massal yang ketat, menyamai sel lithium terbaik di pasaran saat ini.

Desain Tabless Mirip Baterai Tesla 4680

Temuan paling menonjol adalah struktur internal sel Hina. Baterai ini menggunakan desain tabless dengan pengumpul arus aluminium ganda (double-aluminum current collector). Desain ini mengurangi resistansi dan memastikan distribusi suhu yang merata.

“Desain ini juga mencerminkan desain baterai Tesla saat ini,” tulis para peneliti. Arsitektur tabless merupakan fitur utama yang diperkenalkan Tesla pada sel 4680-nya. Para peneliti menegaskan, ini adalah pertama kalinya baterai sodium-ion komersial menggunakan desain tersebut. Keunggulan lain, sodium-ion bisa menggunakan aluminium di kedua sisi sel, sementara lithium-ion membutuhkan tembaga yang lebih mahal di sisi anoda.

Kelemahan di Kepadatan Energi dan Pengisian Dingin

Meski kualitas produksi setara, baterai sodium-ion masih tertinggal dalam dua aspek vital untuk kendaraan listrik. Pertama, kepadatan energi (energy density). “Sel sodium-ion komersial saat ini umumnya memiliki kepadatan energi lebih rendah dibanding sel lithium-ion terbaik, dan teknologinya secara keseluruhan kurang matang,” kata Moritz Schütte, salah satu peneliti.

Kedua, pengisian daya di suhu dingin. Sodium memang mampu melepas daya (discharge) dengan baik di suhu rendah, tetapi pengisian dayanya (charging) menjadi masalah. “Untuk aplikasi yang memerlukan pengisian daya sering pada suhu lingkungan rendah, manajemen termal atau strategi operasi yang tepat akan menjadi penting,” ujar Schütte.

Para peneliti juga menemukan keanehan: kandungan tembaga yang tinggi dan tidak merata di bagian katoda. Mereka menyebut temuan ini “menimbulkan pertanyaan menarik tentang perannya dalam kinerja dan penuaan.” Schütte berharap sel sodium-ion masa depan “bebas dari nikel dan tembaga” namun tetap mencapai kepadatan energi yang kompetitif.

Produksi Massal Sudah Jalan, Target Pasar Berbeda

Temuan ini muncul saat raksasa baterai China, CATL, mulai memproduksi massal baterai sodium-ion. Pada Februari lalu, CATL dan Changan meluncurkan mobil listrik produksi massal pertama di dunia yang menggunakan baterai sodium-ion, yaitu Changan Nevo A06. Hina sendiri, perusahaan spin-off dari Akademi Ilmu Pengetahuan China, sudah memasok sel untuk kendaraan dan penyimpanan listrik jaringan dengan paket komersial berkisar 165 Wh/kg.

Inti dari studi ini bukanlah sodium mengalahkan lithium dalam spesifikasi, melainkan bahwa kualitas produksi baterai sodium-ion China sudah setara dengan yang terbaik di dunia. Kesenjangan yang tersisa—kepadatan energi dan pengisian di bawah nol—adalah masalah rekayasa yang memiliki peta jalan jelas, bukan hambatan fundamental. Artinya, baterai sodium-ion kini siap bersaing untuk penyimpanan stasioner, layanan jaringan, dan kendaraan komersial jarak pendek, meninggalkan lithium-ion untuk mobil penumpang jarak jauh.

Bagikan
Sumber: electrek.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks