BANTEN — Bursa komoditas China mencatatkan lonjakan signifikan pada harga batu bara kokas pekan ini. Kontrak paling aktif di Bursa Komoditas Dalian memang ditutup melemah tipis 0,31 persen ke level 1.285,5 yuan per ton pada Jumat (30/5). Namun secara mingguan, harga komoditas ini masih perkasa dengan kenaikan 9,6 persen — menjadikannya pekan terbaik dalam enam minggu terakhir.
Ledakan maut di Tambang Liushenyu, Provinsi Shanxi, pekan lalu memicu respons keras pemerintah. Otoritas perencanaan negara langsung mengeluarkan imbauan agar produksi dan pasokan energi primer seperti batu bara dan gas alam tetap terjaga menjelang musim panas. Namun di saat bersamaan, gelombang inspeksi keselamatan besar-besaran membuat sejumlah tambang menghentikan operasi sementara.
Analis Kpler menilai langkah pengetatan pengawasan ini justru membuat pasar semakin ketat. “Pasar batu bara mengencang setelah China memperketat pengawasan keselamatan tambang pascaledakan gas. Kondisi ini menopang harga menjelang puncak permintaan musim panas,” tulis analis Kpler dalam laporan yang dikutip Reuters, Sabtu (30/5).
Bukan hanya isu pasokan yang mendorong harga. Data Mysteel menunjukkan produksi harian rata-rata logam panas — indikator utama permintaan bahan baku baja — naik 0,1 persen menjadi 2,41 juta ton per 28 Mei 2026. Angka itu merupakan yang tertinggi sejak Oktober tahun lalu. Permintaan yang tetap kuat membuat harga bahan baku industri baja mendapat tambahan amunisi untuk bertahan di level tinggi.
Kontrak kokas sendiri naik 0,26 persen menjadi 1.903 yuan per ton secara harian, dengan penguatan mingguan mencapai 9,4 persen. Harga bijih besi di bursa yang sama bergerak relatif datar, naik 0,45 persen ke 783,5 yuan per ton. Sementara di pasar baja, harga baja tulangan naik 0,19 persen, baja canai panas bertambah 0,33 persen, dan kawat baja menguat 0,24 persen.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat betapa besarnya ketergantungan ekspor batu bara nasional terhadap China. Data Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mencatat impor batu bara China dari Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar 211 juta ton — setara lebih dari 43 persen total impor batu bara China tahun lalu.
Dengan porsi sebesar itu, setiap gangguan produksi di tambang China langsung berdampak pada pasar global. Pasar mulai berspekulasi bahwa China kemungkinan perlu meningkatkan impor apabila gangguan produksi berlangsung lebih lama. Kondisi ini berpotensi membuka ruang kenaikan volume ekspor maupun menopang harga batu bara Asia yang sempat tertekan.
Paradoks memang terjadi di pasar komoditas: ketika kecelakaan tambang memicu kekhawatiran pasokan, harga justru mendapat dorongan. Korban berjatuhan di lokasi tambang, tetapi pasar merayakan kenaikan harga. Bagi eksportir Indonesia, situasi ini setidaknya memberi angin segar di tengah ketidakpastian permintaan global.