BANTEN — Prabowo menyampaikan rencana tersebut dalam pidato di acara Panen Raya TNI di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7). Ia tidak merinci spesifikasi teknis, merek, atau harga motor listrik nasional tersebut. "Sebentar lagi kita sudah punya motor nasional. Saya akan launching beberapa minggu ini motor listrik nasional," ujarnya, seperti dikutip dari Detik.
Motor Listrik untuk Petani dan Target Produksi Lokal
Dalam kesempatan itu, Prabowo secara spesifik menyebut motor listrik ini diharapkan bisa dimanfaatkan petani untuk menunjang aktivitas sehari-hari. "Saya berharap nanti petani-petani kita minimal naik motor listrik ya. Malah siapa tahu ada yang pakai mobil semua nanti," kata Prabowo.
Pernyataan ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pengamat otomotif. Selama ini, segmen motor listrik roda dua di Indonesia didominasi produk konversi atau buatan pabrikan rintisan (startup) seperti Gesits, Volta, dan Viar. Belum ada kejelasan apakah motor yang dimaksud Prabowo merupakan model baru dari pabrikan yang sudah ada, atau hasil kolaborasi BUMN dengan pihak swasta.
Mobil Nasional dan Jejak Sukses Maung
Prabowo juga menegaskan Indonesia akan memiliki mobil nasional buatan anak bangsa. Ia mencontohkan kendaraan taktis Maung buatan PT Pindad yang kini digunakan perwira TNI. "Waktu itu saya Menhan, sama TNI saya disodorkan, 'Pak, ini jeep bagus, murah buatan asing. Ini buatan Indonesia, tapi mahal pak'. Ya karena kita baru mulai," cerita Prabowo.
Menurutnya, memilih produk impor yang lebih murah hanya akan menghambat pertumbuhan industri otomotif lokal. "Ya kalau saya pilih yang murah ini kapan Indonesia punya jeep sendiri. Ya sudah, saya pilih yang agak mahal tapi buatan anak-anak Indonesia sendiri, yaitu Maung," paparnya. Keputusan ini dinilai sebagai langkah berani yang akhirnya mendorong produksi massal kendaraan taktis dalam negeri.
Yang Masih Jadi Tanda Tanya Besar
Hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi dari Kementerian Perindustrian atau ATPM (Agen Pemegang Merek) soal nama pabrikan yang akan memproduksi motor listrik nasional tersebut. Spekulasi pun mulai merebak di forum-forum otomotif: apakah ini proyek lanjutan dari pengembangan motor listrik buatan ITB yang sempat digembar-gemborkan, atau justru kerja sama dengan pabrikan asal China yang sudah memiliki basis produksi di Indonesia?
Yang jelas, target peluncuran dalam "beberapa minggu ke depan" tergolong sangat ambisius. Proses homologasi, uji tipe, hingga pembangunan jaringan dealer biasanya memakan waktu berbulan-bulan. Publik otomotif Indonesia pun menunggu apakah motor listrik ini benar-benar akan menjadi kendaraan massal yang terjangkau, atau sekadar kendaraan dinas untuk kalangan tertentu.