BANTEN — Bertanding di Dallas Stadium, Jepang tampil sebagai underdog sejak awal. Belanda unggul lebih dulu lewat gol Virgil van Dijk pada menit ke-50. Namun, respons cepat datang tujuh menit berselang lewat Keito Nakamura yang membuat skor kembali imbang 1-1.
Belanda kembali memimpin pada menit ke-64 melalui Crysencio Summerville. Publik mulai meragukan kemampuan Jepang untuk bangkit lagi. Tapi gol Daichi Kamada di menit ke-89 memastikan satu poin berharga bagi Samurai Biru.
Ange Postecoglou Soroti Perubahan Drastis Permainan Jepang
Mantan pelatih Tottenham Hotspur, Ange Postecoglou, menangkap pola menarik dari performa Jepang. Menurutnya, tim asuhan Hajime Moriyasu justru menunjukkan kualitas terbaik saat tertinggal, bukan ketika skor masih imbang.
"Frustrasi saya adalah setiap kali Jepang tertinggal satu gol, tiba-tiba Anda melihat kemampuan yang mereka miliki," ujar Postecoglou dikutip dari BBC Sport. Ia menilai Samurai Biru bermain lebih positif dalam penguasaan bola dan berani menekan lawan di momen-momen kritis.
"Mereka mampu melakukan jauh lebih banyak daripada yang mereka tunjukkan hari ini dan mereka bisa jauh lebih berani," tegasnya.
Belanda Gagal Manfaatkan Keunggulan, Terlalu Pasif
Dua kali unggul seharusnya menjadi modal aman bagi De Oranje. Namun, intensitas permainan Belanda justru menurun drastis setelah unggul 2-1. Situasi itu memberi ruang bagi Jepang untuk menguasai bola dan menekan pertahanan lawan.
Mantan kiper Timnas Inggris, Paul Robinson, mengkritik sikap pasif Belanda. "Mereka mengira cukup bagus dalam bertahan, tetapi terlalu pasif dan membiarkan Jepang menyerang mereka," kata Robinson pada BBC Sport.
Hasil imbang ini membuat Grup F semakin terbuka. Jepang menunjukkan bahwa mereka bukan tim yang mudah menyerah, sementara Belanda harus segera membenahi konsistensi permainan jika ingin melaju ke fase berikutnya.