Kelompok tani di Kabupaten Lebak, Banten, meraup keuntungan hingga Rp 20 juta per panen dari budi daya jagung hibrida di tengah musim kemarau. Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak pun mendorong petani memperluas tanaman palawija untuk menjaga ketahanan pangan dan ekonomi warga.
LEBAK — Budi daya palawija terbukti menguntungkan petani di Kabupaten Lebak, Banten, meski musim kemarau tengah berlangsung. Ketua Kelompok Tani Sukabungah Desa Tambakbaya, Ruhiana, menyebut panen jagung hibrida menghasilkan produktivitas rata-rata 7 ton per hektare dengan harga Rp 5.000 per kilogram saat kondisi kering.
Dari pendapatan kotor sekitar Rp 35 juta per panen, petani masih bisa membukukan keuntungan bersih hingga Rp 20 juta setelah dipotong biaya upah kerja, pupuk, dan benih yang mencapai Rp 15 juta. Hasil panen jagung ini, kata dia, langsung ditampung perusahaan peternakan dan Bulog.
Produksi Palawija Lebak Capai 3.669 Ton Sepanjang 2026
Kepala Distan Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan, pengembangan palawija menjadi strategi yang tepat untuk memanfaatkan lahan di musim kemarau. Sebab, komoditas seperti jagung, kedelai, dan kacang tanah tidak memerlukan pasokan air yang banyak.
Data Distan mencatat, sejak Januari hingga Juli 2026, produksi palawija di Lebak mencapai 1.026 ton untuk sejumlah komoditas. Rinciannya, jagung 2.625 ton, ubi kayu 829 ton, kacang tanah 32 ton, ubi jalar 163 ton, kedelai 18 ton, dan kacang hijau 2 ton.
"Kami yakin produksi palawija bisa memenuhi kebutuhan pasar lokal juga perusahaan pakan ternak," kata Rahmat di Lebak, Kamis.
Mengapa Palawija Cocok untuk Lahan Kering?
Menurut Rahmat, masa panen palawija terbilang singkat, rata-rata hanya 90 hari setelah tanam. Kondisi ini membuat petani bisa cepat menikmati hasil sekaligus menjaga siklus ekonomi di perdesaan.
Pihaknya pun menginstruksikan petugas Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Penyuluh untuk mendorong kelompok tani mengembangkan komoditas ini seiring musim kemarau panjang. Potensi lahan yang bisa dimanfaatkan mencakup sawah dan lahan darat di seluruh wilayah Kabupaten Lebak.
Dukung Swasembada Pangan dan Permintaan Pasar
Pengembangan palawija dinilai strategis untuk merealisasikan program swasembada pangan. Selain memenuhi kebutuhan lokal, hasil panen juga bisa dikirim ke luar daerah mengingat permintaan pasar yang cukup tinggi.
"Pertanian palawija itu tidak memerlukan ketersediaan pasokan air banyak dan cocok dikembangkan pada musim kemarau," ujar Rahmat menjelaskan.
Komoditas yang berpotensi dikembangkan di lahan kering antara lain jagung, kedelai, kacang tanah, pisang, singkong, dan beragam umbi-umbian lainnya.